2008-04-23

2008-04-05

PDRI DI PADANG JAPANG

PDRI DI PADANG JAPANG


Selama masa perjuangan kemerdekaan baik semasa pemerintahan Belanda, Jepang dan kembali ke pemerintahan Belanda, anak nagari Tujuah Koto tidak pernah absen dalam kancah perjuangan. Apalagi saat mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada Anggresi Ke II Belanda. Banyak putera dan puteri Padang Japang dan atau Nagari Tujuah Koto Talago yang langsung ikut bertempur di berbagai fron melawan tentara Belanda. Fron Tabing adalah salah satu front yang populer. Pasukan Palang merah yang diperkuat ibu-ibu dari dapur umum berangkat dengan kereta api dari Simpang Bakia ( Bak Kieur ) di Talago, terus ke pasar Usang Padang, guna mengirim perbekalan pasukan Harimau Kuranji .


Dalam masa peperangan mempertahankan kemerdekaan setidak-tidaknya ada 5 orang yang sudah ditemukan namanya putera Padang Japang yang gugur di medan pertempuran, baik selaku prajurit TNI maupun selaku pejuang BKR yang tergabung dalam kesatuan Sabilillah.Nama-nama mereka dilukiskan pada sebuah tugu prasasti yang didirikan di depan Balai Adat di Pokan Sinoyan, Padang Japang. Markas para pejuang semasa perang kemerdekaan tersebut berada sebelah Timur Balai Adat, kini menjadi Mushalla di Pokan Sinoyan.



Pada masa Pemerintahan Indonesia dalam keadaan kritis, akibat gempuran tentara Belanda di pulau Jawa, yakni setelah Belanda masuk ke Yogyakarta ibukota RI saat itu, Presiden Soekarno dan wakil Presiden RI Hatta telah menyerah dan ditawan oleh Belanda di Yogyakarta 19 Desember 1948; Kemudian Keadaan yang tidak menguntungkan di Bukittinggi saat itu, Para pemimpion Republik yang berada di Bukittinggi mengungsi ke arah Timur Payakumbuh dan diantaranya yang dinilai aman adalah Padang Japang. Desa ini pernah menjadi pusat perjuangan Pemerintah Darurat Republik Indonesia ( PDRI ). Fasilitas perguruan Islam; Darul Funun El Abbasiyah dan perguaruan Tarbiyah di Padang Japang, dipergunakan oleh para pejuang untuk mempertahankan kemerdekaan RI dari penjajahan Belanda .
Foto di samping ini adalah sumur yang dipergunakan untuk mandi oleh para perunding Dari Yogyakarta dan para pejuang Pemeritah Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Tobek Godang Padang Japang, pada tanggal 5,6 dan 7 Juli 1949. Pada waktu itu dilansungkan sebuah perundingan dari kedua delegasi dalam upaya memulang mandat Pemerintah Republik Indonesia dari Sajafruddin Prawiranegara ( selaku Ketua PDRI ) kepada Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Hatta di Yogyakarta. Perundingan dilangsungkan di rumah Jawanis, isteri Machmud Junus Menteri Aagama PDRI, di kampung suku Saikumbang Padang Japang.
MUNGGU TARAM